Syukur adalah bentuk terimakasih kita atas pemberian yang telah kita
nikmati. Dalam bersyukur, seorang hamba harus memahami nikmat yang ia syukuri.
Tanpa memahami, kita tidak dapat mensyukuri nikmat secara tulus dan ikhlas. Dan
untuk memahami amat terkait dengan kadar keimanan yang kita miliki
masing-masing.
Melatih diri agar membiasakan menerima segala sesuatu yang diberikan
pada diri kita adalah cara efektif untuk terus memacu tingkat rasa syukur kita.
Alah telah memberikan sarana pelatihan bagi kita untuk melatih rasa syukur kita
ini. Lihatlah bentuk kehidupan semuanya berpasangan. Semuanya membawa nilai
manfaat bagi kehidupan makhluk-NYA. Inilah karunia Allah yang harus kita lihat
secara benar dan terbuka, dengan mengikuti tuntunannya yang termuat dalam
Al-Qur’an dan As-sunah. Jangan sampai terjebak dalam salah faham mengenai
nikmat ini.
Rasa syukur yang mewujud dalam diri seorang muslim dapat menjadikan
dirinya memiliki motivasi kuat dalam memperbaharui iman. Hal ini dapat dimulai
dengan keyakinan yang kuat bahwa sesungguhnya Allah, hari ini telah menurunkan kemudahan
dan kemurahan bagi kita untuk menjemput rizqi yang ia sediakan. Bukankan langit
dan bumi diciptakan dengan berbagai kelengkapannya..? Allah telah menciptakan langit
dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan
air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rizqi untukmu, dan Dia telah
menundukan bahtera itu, berlayarlah dilautan dengan kehendak-NYA, dan telah
menundukan (pula) bagimu sungai-sungai.” ( Q.S Ibrahim:7).
Tak ada yang perlu kita khawatirkan dalam hidup ini. Semua kebutuhan
bagi setiap makhluknya telah Allah cukupkan. Dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat
34, Allah berfirman “ Dan Dia telah memberikan kepadamu
(keperluan) dari segala apa yang kamu mohonkan kepda-NYA. Dan jika kamu
menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia
itu sangat dzalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).
Dan orang yang mau bekerja dan mendapatkan rezeki yang halal, hal itu
sangat mulia. Sebuah motivasi diri yang tertanam dengan dasar keimanan bagi
tercapainya cita-cita pribadi. Dapat kita katakan bekerja dan berusaha untuk
mencari rezeki atau kekayaan wajib dilakukan. Tidak benar jika orang yang ingin
menyempurnakan ibadahnya lalu menghindari kekayaan dan malas bekerja. Dalam sebuah
Hadist diterangkan bahwa Rosululloh SAW, bersabda “ Ada orang yang membawa seutas
tali, dengan mengunpulkan kayu bakar lalu datang dan dibawanya ke pasar untuk
dijual, kemudian ia menjadi kaya, lalu dibelanjakannya kekayaannya itu untuk
keperluan dirinya. Itu adalah lebih baik daripada meminta-minta pada orang
lain, yang mungkin diberinya (sedikit) atau ditolaknya. ( HR Ahmad).
Janji Alloh benar adanya dan karunia-NYA pun terbukti. Kalau manusia
masih saja tidak mau bersyukur dengan apa-apa yang telah diterima, pantaslah ia
dianggap orang tidak pandai bersyukur atas nikmat Allah dan telah tertutup hatinya.
Buat mereka yang tampak hanyalah rasa kurang dan ketidak puasan atas apa yang telah diterimanya. Dalam Al-Qur’an
surat ibrahim ayat 7 “Dan (ingatlah juga) tatkala tuhanmu
mengumumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-KU), maka sesungguhnya azab-KU sangat
pedih”.
Dalam kenyataan, seringkali syukur lebih mudah dinyatakan namun sulit
untuk dibuktikan. Tapi tidak ada salahnya kita terus mencoba untuk memperbaiki
kualitas iman kita, agar dapat mensyukuri nikmat pemberian-NYA.
Wallahu a’lam bishoab..



No comments:
Post a Comment